Di mana-mana yang namanya rasa penasaran itu tidak enak. Ia seperti gatal yang minta digaruk, seperti lapar yang minta dikenyangkan. Bikin geregetan. Selain tidak enak, rasa penasaran kadang juga membahayakan. Banyak penderitaan, atau paling tidak kesialan manusia, disebabkan oleh adanya rasa penasaran. Dalam hal ini, saya adalah salah satu dari manusia-manusia sial tersebut yang pernah mengalaminya.
Kesialan itu saya alami waktu menginjak kelas 2 SD. Waktu itu saya bersekolah di Bojonegoro, salah satu kota di Jawa Timur. Dalam rangka memperingati 17 Agustus kota Bojonegoro menyelenggarakan karnaval dan pawai mobil hias, yang tampaknya diikuti oleh semua sekolah. SD saya pun tak ketinggalan. Tentu tak semua murid bisa ikut. Saya, dan kakak saya (yang waktu itu kelas 3) ikut terpilih mewakili sekolah dalam karnaval tersebut. Bangganya bukan main.
Pada hari H, suasana saat persiapan sangat meriah. Saya dipakaikan kebaya, lengkap dengan sanggul ala ibu kita Kartini. Wajah saya dirias (lebih tepatnya digambari seperti merak), dengan bentuk alis melengkung tajam mirip bintang sinetron antagonis. Wajah saya yang aslinya jutek ini tampak lebih garang, mirip jin minta sajen.
Adapun kakak saya, ia mendapat peran sebagai prajurit. Tubuhnya yang ceking itu menyandang kostum prajurit lengkap dengan kerisnya. Ia juga dirias, dibuatkan kumis-kumisan entah dari apa. Perannya sebagai prajurit mengharuskan ia naik kuda. Gagah sekali. (Ehm...yang saya maksud kudanya).
Saya sendiri tak tahu berperan sebagai apa. Yang jelas waktu itu ada tokoh raja dan ratu yang diperankan oleh kakak kelas. Ada juga peran dayang-dayang, yang harusnya mengipasi raja dan ratu, namun pada kenyataannya lebih sering mengipasi diri sendiri karena gerah. Raja, ratu, dayang-dayang, dan saya (mungkin waktu itu sebagai perdana menteri?), serta satu tokoh lagi dinaikkan ke mobil hias.
Mobil hias itu sendiri sebenarnya adalah mobil pick up yang dihias sedemikian rupa sehingga mirip kereta kencana. Ditempeli ratusan bunga-bungaan dari kertas. Didekor sangat apik. Tak lupa di bagian baknya diisi properti kerajaan, seperti singgasana raja. Keren. Karnaval pun dimulai. Urut-urutannya : pasukan berkuda yang salah satunya diperankan oleh kakak, berada di barisan paling depan, kemudian disusul oleh 'kereta kencana' yang saya naiki, selanjutnya adalah rombongan jalan kaki anak-anak lain serta para guru.
Nah, seharusnya pawai tersebut berlangsung tertib dan lancar seandainya tidak dikacaukan oleh rasa penasaran seorang anak tengil yang duduk di mobil hias, yaitu saya. Waktu itu suasana gegap gempita. Sebagai anak kecil yang ingin tahu, saya penasaran ingin melihat mobil hias sekolah lain, dan terutama melihat pasukan berkuda, yang mana itu sangat sulit mengingat posisi pasukan berkuda adalah di depan mobil hias. Pandangan saya terhalang oleh bagian depan mobil dan segala tetek-bengek dekorasi dan properti.
Saya semakin penasaran ketika mendengar ada salah satu kuda yang ngamuk. Saya pun mencondongkan tubuh, miring ke kiri. Maksudnya mau melihat dari bagian samping mobil. Di tengah sorak sorai penonton, teriakan pasukan keamanan, dan bualan tukang es tiba-tiba....
Bruk!! Saya terjatuh. Rupanya, posisi tubuh yang miring hampir 45 derajat ditambah dengan hukum gravitasi Tuhan membuat saya terpental dari kursi. Saya terempas. Dagu saya menghantam aspal. Keras sekali. Waktu serasa membeku. Seperti ada jeda sekian detik dalam suasana yang riuh itu. Rasa sakit dan ngilu tengah merambati sekujur tubuh saya ketika pada akhirnya terdengar derap langkah kaki orang-orang yang mengerubungi saya. Pawai menjadi agak macet.
Salah satu guru membangunkan saya, mengangkat tubuh saya dan mendudukkannya kembali ke mobil hias, kemudian memberi saya minum. But the show must go on. Dengan elegan saya menahan sakit, tangis, dan juga malu. Stay cool, kata anak jaman sekarang. Saya membuka kipas, mengipaskan ke wajah saya sambil menutupi dagu yang lebam karena benturan aspal. Dengan pandangan mata yang cuek seakan tidak terjadi apa-apa, layaknya model profesional. Kalau waktu itu Angelina Jolie nonton, saya yakin ia akan minder melihat ketabahan dan keanggunan saya. (Sedia ember muntah).
Selepas karnaval barulah terasa nyeri seluruh tubuh. Dagu membengkak. Beberapa hari kemudian bengkak itu menjadi semacam borok. Setelah diobati macam-macam, boroknya hilang. Berganti menjadi burik. Mirip sisik ikan. Perlu waktu dalam hitungan bulan untuk menghilangkan burik itu. Sekitar 3 bulan kemudian barulah burik itu bisa diatasi.
Berganti menjadi busik. Yakni semacam warna kulit yang tidak merata oleh karena adanya bekas luka. Terberkatilah para pencipta kosmetik! Dengan penggunaan teratur sebuah lotion, lulur, facial foam, whitening cream, bedak, amplas, dan pelitur, busiknya pun hilang. Tak ada bekas luka, mulus.
Bertahun-tahun setelah kejadian itu, ada semacam perasaan konyol yang menyeruak tiap kali saya memandang pick up. Perasaan yang membawa saya pada sebuah kesimpulan sederhana, yang mungkin bermanfaat bagi Anda, yakni :
"Jika Anda penasaran, pastikanlah tidak sedang berada di atas mobil pick up !"


