Sabtu, 05 Oktober 2013

Mawar buat Freddie

            Too much love will kill you. Begitulah lagu yang ditulis oleh Brian May untuk Freddie Mercury sebagai nasihat atas kehidupan cinta Freddy yang riuh.
Kali pertama saya mendengar kalimat itu (waktu itu saya masih belasan tahun), awalnya saya tak begitu paham. Bagaimana bisa, pikir saya, cinta itu kan kebaikan. Bagaimana bisa sebuah kebaikan dapat “membunuh”?

           Jawaban mengenai itu, atau lebih tepatnya pemahaman, akhirnya saya dapatkan setelah saya mapan benar sebagai editor. Pengertian ‘mapan’ di sini bukan berarti stabil dalam hal finansial, melainkan dalam pengertian yang lebih khusus yang akan saya uraikan berikut ini.

         Begini, sebagai editor, pekerjaan saya adalah (tentu saja) menyunting naskah yang hendak diterbitkan. Secara garis besar penyuntingan yang saya lakukan adalah dari segi tata bahasa. Namun, kalau Anda mau tahu, tata bahasa itu berarti mencakup semantik dan sintaksisnya sekaligus. Menyangkut makna unsur-unsur bahasa mulai dari kalimat, klausa, frase, kata, sampai pada tataran morfem dan fonem, sekaligus kepaduan unsur-unsur tersebut agar sesuai dengan EYD. Pendeknya, saya harus membuat bahasa dalam naskah tak hanya baku dan sesuai kaidah, melainkan juga harus enak dibaca dan logis. Dan, kalau Anda mau tahu juga, semua proses itu membutuhkan kecermatan yang super, apalagi jika naskah yang disunting adalah naskah terjemahan yang notabene kaidah tata bahasanya berbeda dengan bahasa Indonesia.

           Fiuuuuuh…melelahkan. Namun, setelah melewati masa adaptasi dan dapat menyesuaikan ritme kerja, akhirnya saya mampu membuat proses penyuntingan menjadi tidak terlalu menyakitkan buat saya. Alhamdulillah, saya selalu berhasil pulang dalam keadaan utuh.

Rutinitas seperti itu lambat laun membuat saya menjadi “peka” terhadap praktik bahasa, baik ujaran maupun bahasa tulis. Saat membaca sebuah tulisan atau mendengar orang berbicara (terutama public figure) entah kenapa secara otomatis otak saya menganalisis kalimatnya. Baku atau tidak, efektif atau berlebihan, logiskah, sesuaikah ejaannya dengan EYD dan lain-lain. Jadi, saat saya membaca running text pada sebuah acara berita di TV, misalnya, yang ada di kepala saya “oh harusnya itu ‘ke mana’ bukan ‘kemana’, harusnya itu ‘dipersilakan’ bukan ‘dipersilahkan’. Hal-hal semacam itu juga terjadi saat saya menonton tayangan artis yang sedang diwawancarai, membaca koran, membaca poster dan lain-lain. Tanpa disadari otak saya memproses olahraga bukan olah raga atau perusakan bukan pengrusakan atau kayaknya itu yang dimaksud ‘karena’ deh, bukan ‘secara’. Ini beneran! Astaga, otak saya melakukan proses penyuntingan dengan sendirinya.

             Di satu sisi, kepekaan itu saya syukuri. Itu artinya ilmu yang saya dapat dari pekerjaan saya, juga dari hasil kuliah saya―by the way, saya kuliah jurusan bahasa―sedikit banyak telah melekat ke kepala saya. Dengan pengetahuan akademis itu, bisa dibilang saya sudah cukup layak untuk mengoreksi  ujaran atau tulisan seseorang, dan menunjukkan bagaimana berbahasa yang baik dan efektif. Namun, di sisi lain, saya terkikis. Ini saya sadari tatkala saya berada dalam proses menulis. Otak saya melakukan dua proses, menulis dan menyunting sekaligus. Dan inilah yang saya khawatirkan menjadi jebakan dalam imajinasi saya. Kata dosen saya dulu, ketika kita menulis, ya tulis saja apa yang ada dalam pikiran. Penyuntingan bisa dilakukan setelah tulisan tersebut selesai. Kalau dua hal itu (menulis dan menyunting) dilakukan secara bersamaan, kita akan senewen sendiri karena selalu merasa tidak puas pada setiap kalimat yang kita hasilkan, akibatnya, tulisan akan lama sekali selesai. Selain itu, tulisan tidak akan mengalir lancar karena selalu dibayangi oleh “hantu” kaidah berbahasa.

            Bayangkanlah seorang pengajar musik. Ia menguasai teori musik, sejarahnya, perkembangannya, klasifikasinya, pokoknya punya wawasan musik yang luas. Cara mengajarnya asyik dan sudah pasti ia kelihatan pintar dan menguasai materi. Nah, ketika diminta untuk tampil dalam sebuah pertunjukan kecil, dalam sebuah kafe misalnya, ia justru grogi, tidak lepas karena terlalu berhati-hati. Kenapa begitu? Sebab ia tahu terlalu banyak! Ia paham teori bermusik yang bagus itu begini, komposisi yang bagus itu begini, dan hal-hal detail lainnya. Akibatnya, ia bukannya menikmati musik itu sendiri melainkan terperangkap pada pengetahuan akademisnya. Padahal salah satu manfaat musik, dan seni pada umumnya, adalah pencapaian katarsis. Seni mampu membebaskan pembuat maupun penikmatnya dari beban pikiran dan tekanan batin. Walaupun kebebasan itu tak abadi, tapi ia patut disyukuri.

           Seorang anak kecil bisa dengan bebas merasa sedang bermain-main di bulan, bersepeda di dalam laut, terbang dengan sepatu roda dan lain-lain. Namun ketika ia besar, ketika ia sudah cukup mengerti tentang oksigen, ia merasa semuanya menjadi konyol. Lihatlah apa yang dilakukan fakta pada imajinasi!

          Di titik itulah saya merasa, pengetahuan terkadang merepotkan. Maka sampailah saya pada suatu simpulan atas lagu Too Much Love Will Kill You tadi. Bahwa ternyata, seperti halnya  cinta dan pengetahuan, kebaikan yang sembrono juga dapat ‘membunuh’.

Oktober, 2013


Bosan

           Lebih dari 2 minggu sudah saya bekerja di kantor ini. Saya mulai menemukan ritmenya. Dan secara perlahan-lahan, saya takut menjadi terlalu cepat bosan.

Maret, 2013

Oldschool

               Saya baru beberapa hari ini bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Sebagai editor. Ah…saya tak bisa menghindari adanya perasaan yang sedikit terlalu bangga ketika mengucapkan kata itu.

              Kesan pertama saya pada perusahaan ini adalah: oldschool. Ini bisa dilihat dari interiornya yang konservatif, dan komputer-komputernya dengan monitor jadul segede gaban. (Belakangan saya tahu dari teman kantor bahwa monitor jadul itu punya keunggulan yang tak dimiliki oleh monitor yang lebih modern, terutama dalam hal komposisi warna untuk kepentingan lay-out).

             Masuk di lobi Anda akan melihat sebuah sofa tua berwarna hijau, sebuah televisi yang entah kapan terakhir kali dinyalakan (sejak saya masuk sampai sekarang, saya belum pernah menonton acara apa pun dari TV itu, atau minimal, melihatnya menyala), dan tumpukan buku-buku ilmiah populer yang mungkin tak akan pernah disentuh oleh resepsionisnya.

            Di belakang konter lobi, sebelah kiri, ada pintu kaca ganda yang menghubungkan bagian lobi dengan ruangan lain, terus ke dalam. Masih di seputar lobi, terdapat satu kamar mandi khusus tamu, satu ruangan kecil sebesar kamar, dan di dekat kamar mandi itu, ya di situ, ada tangga menuju lantai dua. Ruang editorial, tempat saya bekerja.

           Secara garis besar, lantai dua terdiri atas dua bagian, ruang editorial dan ruang finance. Masing-masing bagian mempunyai satu kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan. Nah, di dalam ruang editorial itu terdapat empat ruangan tertutup yang saya belum tahu fungsinya (karena memang belum pernah masuk ke sana). Ruangan di dalam ruangan. Agak membingungkan memang.

           Dan inilah denyut ruangan ini. Tepat di tengah ruang editorial ada sekitar 20 cubicle tempat berbagai makhluk bekerja.  Makhluk yang saya maksud adalah para editor, lay-outer, kru grafis dan desain, dan translator. Homo sapiens dalam berbagai bentuk, ukuran, dan karakter. Kabar baiknya, cubicle-nya tidak sesempit yang Anda bayangkan. Tiap cubicle seluas meja kerja ditambah dengan rak dan meja komputer. Entah kenapa setiap melihatnya saya selalu teringat ruang guru.

            Namun, dari semua itu, titik pusat perhatian saya justru tertuju pada 2 buah benda segi empat yang melekat di dinding sebelah selatan. Dua buah lukisan kartun karakter Winnie the Pooh berukuran kira-kira sebesar kertas A4. Saya menduga kedua lukisan itu sengaja diletakkan di sana untuk mengimbangi kesan serius dari keseluruhan ruangan.

Jika digambarkan secara umum dan sepintas, melalui jendela kunonya, monitor-monitornya yang segede gaban, 20 cubicle yang mirip ruang guru, maka kesan yang akan didapat dari ruangan lantai dua ini adalah…saya banget! (Am I that conservative?)

            Agak mengejutkan, memang, kesadaran itu perlahan-lahan masuk ke otak saya. Kesadaran itu mau tak mau harus saya akui. Bahwa saya memang sekonservatif itu.
Tetapi jika dipikir-pikir, dari dulu saya memang oldschool. Minat saya terhadap sejarah, kesukaan saya pada warna-warna gelap yang natural, dan selera musik 90-an serta keengganan saya pada teknologi yang multifungsi adalah bukti-bukti kesamaan saya dengan ruangan ini. Termasuk 2 lukisan Winnie the Pooh itu. 
Yang merepresentasikan spontanitas, humor, dan kadang-kadang jiwa kekanakan seperti yang saya miliki.

             Hmmm…akan lebih bijak jika saya menerima semua itu dengan penuh rasa syukur, alih-alih membuat penilaian yang macam-macam. Menikmatinya selagi bisa. Apalagi pekerjaan ini mengahruskan saya untuk membaca buku setiap hari, yang mana itu juga hal yang saya sukai. Cocok dengan hobi saya membaca buku. Di zaman sekarang, hobi ini pun perlahan-lahan menjadi klasik. Oldshool.

Februari, 2013

Jeda

             Antara jam sepuluh hingga jam sebelas, jika mata saya mulai terasa lelah setelah membaca atau mengedit beberapa draft, maka saya akan mengambil waktu sejenak untuk melayangkan pandang ke luar melalui jendela di belakang cubicle saya.
           Melalui jendela itu, saya bisa melihat ramainya jalanan, juga halaman depan kantor. Untungnya gedung ini tidak terletak di kawasan niaga atau industri. Jadi, kantor tempat saya bekerja tidak dikelilingi oleh gedung-gedung betingkat, melainkan warteg.
           Menentramkan sekali melihat keluar sejenak di sela-sela tumpukan pekerjaan. Apalagi kalau sedang hujan. I love rain. Ada nuansa magis yang tak bisa saya jelaskan tatkala memandang bulir-bulir hujan, melihatnya berjatuhan di dahan-dahan, membasahi jalanan. Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa ini berlebihan. Tapi memang inilah yang saya dapatkan ketika melihat hujan. Ketenangan, dan tak jarang kegetiran, yang indah yang setara dengan aromaterapi atau meditasi. Saya rasa, semua hal menjadi positif ketika hujan. Mungkin itulah sebabnya mengapa orang tiba-tiba menjadi romantis ketika turun hujan (yang kemudian para penulis cerita sinetron mengerdilkan maknanya dengan membuat adegan “tokoh menderita” saat hujan, lengkap dengan bunyi geledek dan kilatan petir).
          Atau, jika pikiran saya sedang mandeg, saya mengistirahatkannya dengan bermain-main desktop, mengganti screen saver-nya dengan tulisan-tulisan seperti “have a good day” atau “enjoy your life” bahkan “nasi panas, pecel, ikan asin”. Hehe, yang terakhir itu hanya saya lakukan mendekati jam 12 siang, saat sinyal-sinyal di otak menyuruh perut minta makan.
Hanya itu yang bisa saya lakukan ketika penat, ngantuk, bosan dan iseng melanda. Memandang ke luar atau bermain desktop. Kenapa tak sekalian main game saja? Jawabannya, karena memang tidak ada. Kan bisa download terus diinstal? Well, agak susah juga. Akses internet hanya terdapat pada satu komputer yang terletak nun jauh di ujung sana. Itu pun harus antre kalau mau menggunakannya karena dipakai beramai-ramai. Komputer para editor, lay-outer, illustrator, dan translator murni difungsikan hanya untuk urusan pekerjaan. Kami bisa menyalin atau memindahkan file apa pun ke dalam komputer itu, tapi jangan harap bisa mengambil data dari komputer itu. Data tak bisa disalin ke dalam flashdisk. Yang dibuat di situ, tetap tinggal di situ. Hahaha (getir).
          Anyway, saya tetap menyenagi pekerjaan ini. Karena pekerjaan inilah yang membuat saya dibayar untuk membaca.


Februari, 2013

Sabtu, 22 Juni 2013

AFTERGLOW


 AFTERGLOW


Dan akhirnya. Setelah sekian lama blog ini begitu kosong, saya mulai memberanikan diri untuk belajar menulis (lagi). Ya, belajar. Desakan ini muncul mengingat blog saya yang hampir dua tahun ini begitu sunyi, suwung seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya.

Banyak yang saya alami selama kekosongan itu. Selama saya "minggat" dari blog ini, lebih tepatnya. Salah satunya adalah kelulusan saya. Saya diwisuda. Well, finally. Bagi hampir semua orangtua, peristiwa kelulusan seorang anak, terutama anak perempuan, selalu disambut dengan antusias mendekati berlebihan. Tak terkecuali orangtua saya. Heboh, menyiapkan ini itu untuk hari H. Anehnya, saya sendiri merasa biasa saja. Sama seperti hari-hari yang lain hanya saja kali ini saya lebih cantik. Ehem, setidaknya saya merasa lebih cantik.

Semua happy. Tentang bagaimana "nasib" setelah diwisuda itu soal nanti. Dan itu yang saya pikirkan. Ada tapi tak terucapkan. Jalan hidup saya masih gaib pada saat itu. Setelah diwisuda, mempunyai gelar, dan setelah segala macam perayaan ini, inilah yang saya hadapi : menjadi pengangguran. Digarisbawahi.

Tak berapa lama sesudah itu, saya hijrah ke Depok dengan harapan akan mendapatkan pekerjaan secepatnya. Harapan saya, peluang kerja di Jabodetabek lebih besar daripada di kota kelahiran saya. Satu kata untuk gagasan itu adalah : spekulatif!

Kenyataan berbicara lain. Ada beberapa bulan saya menganggur setelah lulus. Pada masa-masa itu memang banyak panggilan interview. Pada bulan keenam saya menganggur saya mendapat panggilan untuk interview di sebuah perusahaan marketing. Perusahaan itu bekerja sama dengan beberapa klien NGO. Saya diterima.

Dalam waktu dua setengah bulan saya resign. Saya keluar dari perusahaan tersebut dengan alasan yang sama yang dipakai oleh para ABG ketika putus, "Ya ga cocok aja."

Ahay. Menganggur. Lagi. Dan inilah yang terjadi. Didorong oleh rasa malu, bokek, dan kekahawatiran soal usia yang tak muda lagi (am I that old), saya pun semakin gencar mencari kerja lewat sebuah situs. Semakin sering mencetak CV dan foto. Semakin khusyuk dalam berdoa (mendekati frustrasi).

Maka inilah jawaban dari Tuhan: 

Saya diterima sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan. Di perusahaan inilah saya berharap kisah hidup saya akan lebih berwarna nantinya. Atau serahkanlah saja hidup ini pada Yang Maha Misterius... 

Februari, 2013 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...