Too much love will kill you. Begitulah lagu yang ditulis oleh Brian May untuk Freddie Mercury sebagai nasihat atas kehidupan cinta Freddy yang riuh.
Kali pertama saya mendengar kalimat itu (waktu itu saya masih belasan tahun), awalnya saya tak begitu paham. Bagaimana bisa, pikir saya, cinta itu kan kebaikan. Bagaimana bisa sebuah kebaikan dapat “membunuh”?
Jawaban mengenai itu, atau lebih tepatnya pemahaman, akhirnya saya dapatkan setelah saya mapan benar sebagai editor. Pengertian ‘mapan’ di sini bukan berarti stabil dalam hal finansial, melainkan dalam pengertian yang lebih khusus yang akan saya uraikan berikut ini.
Begini, sebagai editor, pekerjaan saya adalah (tentu saja) menyunting naskah yang hendak diterbitkan. Secara garis besar penyuntingan yang saya lakukan adalah dari segi tata bahasa. Namun, kalau Anda mau tahu, tata bahasa itu berarti mencakup semantik dan sintaksisnya sekaligus. Menyangkut makna unsur-unsur bahasa mulai dari kalimat, klausa, frase, kata, sampai pada tataran morfem dan fonem, sekaligus kepaduan unsur-unsur tersebut agar sesuai dengan EYD. Pendeknya, saya harus membuat bahasa dalam naskah tak hanya baku dan sesuai kaidah, melainkan juga harus enak dibaca dan logis. Dan, kalau Anda mau tahu juga, semua proses itu membutuhkan kecermatan yang super, apalagi jika naskah yang disunting adalah naskah terjemahan yang notabene kaidah tata bahasanya berbeda dengan bahasa Indonesia.
Fiuuuuuh…melelahkan. Namun, setelah melewati masa adaptasi dan dapat menyesuaikan ritme kerja, akhirnya saya mampu membuat proses penyuntingan menjadi tidak terlalu menyakitkan buat saya. Alhamdulillah, saya selalu berhasil pulang dalam keadaan utuh.
Rutinitas seperti itu lambat laun membuat saya menjadi “peka” terhadap praktik bahasa, baik ujaran maupun bahasa tulis. Saat membaca sebuah tulisan atau mendengar orang berbicara (terutama public figure) entah kenapa secara otomatis otak saya menganalisis kalimatnya. Baku atau tidak, efektif atau berlebihan, logiskah, sesuaikah ejaannya dengan EYD dan lain-lain. Jadi, saat saya membaca running text pada sebuah acara berita di TV, misalnya, yang ada di kepala saya “oh harusnya itu ‘ke mana’ bukan ‘kemana’, harusnya itu ‘dipersilakan’ bukan ‘dipersilahkan’. Hal-hal semacam itu juga terjadi saat saya menonton tayangan artis yang sedang diwawancarai, membaca koran, membaca poster dan lain-lain. Tanpa disadari otak saya memproses olahraga bukan olah raga atau perusakan bukan pengrusakan atau kayaknya itu yang dimaksud ‘karena’ deh, bukan ‘secara’. Ini beneran! Astaga, otak saya melakukan proses penyuntingan dengan sendirinya.
Di satu sisi, kepekaan itu saya syukuri. Itu artinya ilmu yang saya dapat dari pekerjaan saya, juga dari hasil kuliah saya―by the way, saya kuliah jurusan bahasa―sedikit banyak telah melekat ke kepala saya. Dengan pengetahuan akademis itu, bisa dibilang saya sudah cukup layak untuk mengoreksi ujaran atau tulisan seseorang, dan menunjukkan bagaimana berbahasa yang baik dan efektif. Namun, di sisi lain, saya terkikis. Ini saya sadari tatkala saya berada dalam proses menulis. Otak saya melakukan dua proses, menulis dan menyunting sekaligus. Dan inilah yang saya khawatirkan menjadi jebakan dalam imajinasi saya. Kata dosen saya dulu, ketika kita menulis, ya tulis saja apa yang ada dalam pikiran. Penyuntingan bisa dilakukan setelah tulisan tersebut selesai. Kalau dua hal itu (menulis dan menyunting) dilakukan secara bersamaan, kita akan senewen sendiri karena selalu merasa tidak puas pada setiap kalimat yang kita hasilkan, akibatnya, tulisan akan lama sekali selesai. Selain itu, tulisan tidak akan mengalir lancar karena selalu dibayangi oleh “hantu” kaidah berbahasa.
Bayangkanlah seorang pengajar musik. Ia menguasai teori musik, sejarahnya, perkembangannya, klasifikasinya, pokoknya punya wawasan musik yang luas. Cara mengajarnya asyik dan sudah pasti ia kelihatan pintar dan menguasai materi. Nah, ketika diminta untuk tampil dalam sebuah pertunjukan kecil, dalam sebuah kafe misalnya, ia justru grogi, tidak lepas karena terlalu berhati-hati. Kenapa begitu? Sebab ia tahu terlalu banyak! Ia paham teori bermusik yang bagus itu begini, komposisi yang bagus itu begini, dan hal-hal detail lainnya. Akibatnya, ia bukannya menikmati musik itu sendiri melainkan terperangkap pada pengetahuan akademisnya. Padahal salah satu manfaat musik, dan seni pada umumnya, adalah pencapaian katarsis. Seni mampu membebaskan pembuat maupun penikmatnya dari beban pikiran dan tekanan batin. Walaupun kebebasan itu tak abadi, tapi ia patut disyukuri.
Seorang anak kecil bisa dengan bebas merasa sedang bermain-main di bulan, bersepeda di dalam laut, terbang dengan sepatu roda dan lain-lain. Namun ketika ia besar, ketika ia sudah cukup mengerti tentang oksigen, ia merasa semuanya menjadi konyol. Lihatlah apa yang dilakukan fakta pada imajinasi!
Di titik itulah saya merasa, pengetahuan terkadang merepotkan. Maka sampailah saya pada suatu simpulan atas lagu Too Much Love Will Kill You tadi. Bahwa ternyata, seperti halnya cinta dan pengetahuan, kebaikan yang sembrono juga dapat ‘membunuh’.
Oktober, 2013
Kali pertama saya mendengar kalimat itu (waktu itu saya masih belasan tahun), awalnya saya tak begitu paham. Bagaimana bisa, pikir saya, cinta itu kan kebaikan. Bagaimana bisa sebuah kebaikan dapat “membunuh”?
Jawaban mengenai itu, atau lebih tepatnya pemahaman, akhirnya saya dapatkan setelah saya mapan benar sebagai editor. Pengertian ‘mapan’ di sini bukan berarti stabil dalam hal finansial, melainkan dalam pengertian yang lebih khusus yang akan saya uraikan berikut ini.
Begini, sebagai editor, pekerjaan saya adalah (tentu saja) menyunting naskah yang hendak diterbitkan. Secara garis besar penyuntingan yang saya lakukan adalah dari segi tata bahasa. Namun, kalau Anda mau tahu, tata bahasa itu berarti mencakup semantik dan sintaksisnya sekaligus. Menyangkut makna unsur-unsur bahasa mulai dari kalimat, klausa, frase, kata, sampai pada tataran morfem dan fonem, sekaligus kepaduan unsur-unsur tersebut agar sesuai dengan EYD. Pendeknya, saya harus membuat bahasa dalam naskah tak hanya baku dan sesuai kaidah, melainkan juga harus enak dibaca dan logis. Dan, kalau Anda mau tahu juga, semua proses itu membutuhkan kecermatan yang super, apalagi jika naskah yang disunting adalah naskah terjemahan yang notabene kaidah tata bahasanya berbeda dengan bahasa Indonesia.
Fiuuuuuh…melelahkan. Namun, setelah melewati masa adaptasi dan dapat menyesuaikan ritme kerja, akhirnya saya mampu membuat proses penyuntingan menjadi tidak terlalu menyakitkan buat saya. Alhamdulillah, saya selalu berhasil pulang dalam keadaan utuh.
Rutinitas seperti itu lambat laun membuat saya menjadi “peka” terhadap praktik bahasa, baik ujaran maupun bahasa tulis. Saat membaca sebuah tulisan atau mendengar orang berbicara (terutama public figure) entah kenapa secara otomatis otak saya menganalisis kalimatnya. Baku atau tidak, efektif atau berlebihan, logiskah, sesuaikah ejaannya dengan EYD dan lain-lain. Jadi, saat saya membaca running text pada sebuah acara berita di TV, misalnya, yang ada di kepala saya “oh harusnya itu ‘ke mana’ bukan ‘kemana’, harusnya itu ‘dipersilakan’ bukan ‘dipersilahkan’. Hal-hal semacam itu juga terjadi saat saya menonton tayangan artis yang sedang diwawancarai, membaca koran, membaca poster dan lain-lain. Tanpa disadari otak saya memproses olahraga bukan olah raga atau perusakan bukan pengrusakan atau kayaknya itu yang dimaksud ‘karena’ deh, bukan ‘secara’. Ini beneran! Astaga, otak saya melakukan proses penyuntingan dengan sendirinya.
Di satu sisi, kepekaan itu saya syukuri. Itu artinya ilmu yang saya dapat dari pekerjaan saya, juga dari hasil kuliah saya―by the way, saya kuliah jurusan bahasa―sedikit banyak telah melekat ke kepala saya. Dengan pengetahuan akademis itu, bisa dibilang saya sudah cukup layak untuk mengoreksi ujaran atau tulisan seseorang, dan menunjukkan bagaimana berbahasa yang baik dan efektif. Namun, di sisi lain, saya terkikis. Ini saya sadari tatkala saya berada dalam proses menulis. Otak saya melakukan dua proses, menulis dan menyunting sekaligus. Dan inilah yang saya khawatirkan menjadi jebakan dalam imajinasi saya. Kata dosen saya dulu, ketika kita menulis, ya tulis saja apa yang ada dalam pikiran. Penyuntingan bisa dilakukan setelah tulisan tersebut selesai. Kalau dua hal itu (menulis dan menyunting) dilakukan secara bersamaan, kita akan senewen sendiri karena selalu merasa tidak puas pada setiap kalimat yang kita hasilkan, akibatnya, tulisan akan lama sekali selesai. Selain itu, tulisan tidak akan mengalir lancar karena selalu dibayangi oleh “hantu” kaidah berbahasa.
Bayangkanlah seorang pengajar musik. Ia menguasai teori musik, sejarahnya, perkembangannya, klasifikasinya, pokoknya punya wawasan musik yang luas. Cara mengajarnya asyik dan sudah pasti ia kelihatan pintar dan menguasai materi. Nah, ketika diminta untuk tampil dalam sebuah pertunjukan kecil, dalam sebuah kafe misalnya, ia justru grogi, tidak lepas karena terlalu berhati-hati. Kenapa begitu? Sebab ia tahu terlalu banyak! Ia paham teori bermusik yang bagus itu begini, komposisi yang bagus itu begini, dan hal-hal detail lainnya. Akibatnya, ia bukannya menikmati musik itu sendiri melainkan terperangkap pada pengetahuan akademisnya. Padahal salah satu manfaat musik, dan seni pada umumnya, adalah pencapaian katarsis. Seni mampu membebaskan pembuat maupun penikmatnya dari beban pikiran dan tekanan batin. Walaupun kebebasan itu tak abadi, tapi ia patut disyukuri.
Seorang anak kecil bisa dengan bebas merasa sedang bermain-main di bulan, bersepeda di dalam laut, terbang dengan sepatu roda dan lain-lain. Namun ketika ia besar, ketika ia sudah cukup mengerti tentang oksigen, ia merasa semuanya menjadi konyol. Lihatlah apa yang dilakukan fakta pada imajinasi!
Di titik itulah saya merasa, pengetahuan terkadang merepotkan. Maka sampailah saya pada suatu simpulan atas lagu Too Much Love Will Kill You tadi. Bahwa ternyata, seperti halnya cinta dan pengetahuan, kebaikan yang sembrono juga dapat ‘membunuh’.
Oktober, 2013