Kesan pertama saya pada perusahaan ini adalah: oldschool. Ini bisa dilihat dari interiornya yang konservatif, dan komputer-komputernya dengan monitor jadul segede gaban. (Belakangan saya tahu dari teman kantor bahwa monitor jadul itu punya keunggulan yang tak dimiliki oleh monitor yang lebih modern, terutama dalam hal komposisi warna untuk kepentingan lay-out).
Masuk di lobi Anda akan melihat sebuah sofa tua berwarna hijau, sebuah televisi yang entah kapan terakhir kali dinyalakan (sejak saya masuk sampai sekarang, saya belum pernah menonton acara apa pun dari TV itu, atau minimal, melihatnya menyala), dan tumpukan buku-buku ilmiah populer yang mungkin tak akan pernah disentuh oleh resepsionisnya.
Di belakang konter lobi, sebelah kiri, ada pintu kaca ganda yang menghubungkan bagian lobi dengan ruangan lain, terus ke dalam. Masih di seputar lobi, terdapat satu kamar mandi khusus tamu, satu ruangan kecil sebesar kamar, dan di dekat kamar mandi itu, ya di situ, ada tangga menuju lantai dua. Ruang editorial, tempat saya bekerja.
Secara garis besar, lantai dua terdiri atas dua bagian, ruang editorial dan ruang finance. Masing-masing bagian mempunyai satu kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan. Nah, di dalam ruang editorial itu terdapat empat ruangan tertutup yang saya belum tahu fungsinya (karena memang belum pernah masuk ke sana). Ruangan di dalam ruangan. Agak membingungkan memang.
Dan inilah denyut ruangan ini. Tepat di tengah ruang editorial ada sekitar 20 cubicle tempat berbagai makhluk bekerja. Makhluk yang saya maksud adalah para editor, lay-outer, kru grafis dan desain, dan translator. Homo sapiens dalam berbagai bentuk, ukuran, dan karakter. Kabar baiknya, cubicle-nya tidak sesempit yang Anda bayangkan. Tiap cubicle seluas meja kerja ditambah dengan rak dan meja komputer. Entah kenapa setiap melihatnya saya selalu teringat ruang guru.
Namun, dari semua itu, titik pusat perhatian saya justru tertuju pada 2 buah benda segi empat yang melekat di dinding sebelah selatan. Dua buah lukisan kartun karakter Winnie the Pooh berukuran kira-kira sebesar kertas A4. Saya menduga kedua lukisan itu sengaja diletakkan di sana untuk mengimbangi kesan serius dari keseluruhan ruangan.
Jika digambarkan secara umum dan sepintas, melalui jendela kunonya, monitor-monitornya yang segede gaban, 20 cubicle yang mirip ruang guru, maka kesan yang akan didapat dari ruangan lantai dua ini adalah…saya banget! (Am I that conservative?)
Agak mengejutkan, memang, kesadaran itu perlahan-lahan masuk ke otak saya. Kesadaran itu mau tak mau harus saya akui. Bahwa saya memang sekonservatif itu.
Tetapi jika dipikir-pikir, dari dulu saya memang oldschool. Minat saya terhadap sejarah, kesukaan saya pada warna-warna gelap yang natural, dan selera musik 90-an serta keengganan saya pada teknologi yang multifungsi adalah bukti-bukti kesamaan saya dengan ruangan ini. Termasuk 2 lukisan Winnie the Pooh itu. Yang merepresentasikan spontanitas, humor, dan kadang-kadang jiwa kekanakan seperti yang saya miliki.
Hmmm…akan lebih bijak jika saya menerima semua itu dengan penuh rasa syukur, alih-alih membuat penilaian yang macam-macam. Menikmatinya selagi bisa. Apalagi pekerjaan ini mengahruskan saya untuk membaca buku setiap hari, yang mana itu juga hal yang saya sukai. Cocok dengan hobi saya membaca buku. Di zaman sekarang, hobi ini pun perlahan-lahan menjadi klasik. Oldshool.
Februari, 2013
Februari, 2013
1 komentar:
Hahaha it is "The Right Woman at The Right place" isn't it?
Posting Komentar