Minggu, 08 Mei 2011

Tragedi Terasi

Don't judge a candy by its package. Jangan nilai permen dari bungkusnya. Maksudnya kira-kira, tidak semua yang berbungkus permen itu dalamnya permen. Siapa tahu dalamnya terasi. 
Ini cerita tentang Bapak saya. Entah karena salah duga atau bagaimana masalah permen dan terasi ini menjadi pengalaman yang 'berkesan' bagi beliau. Jadi ceritanya, waktu itu Ibu baru saja belanja bulanan. Dari mulai sembako sampai bumbu dapur. Nah, sebagai bagian dari komunitas bumbu dapur, terasi tentu saja tak lupa dibeli. Tahu kan kemasan terasi sekarang? Yang kecil-kecil dan bungkusnya mirip permen itu. Sebagai bumbu dapur yang taat, terasi dengan bungkus yang ngejreng itu tentu saja diletakkan di...dapur.
Setelah belanja Ibu pun istirahat bersama kami. Nonton tv bareng. Tiba-tiba (jreng jreng), kami dikejutkan oleh Bapak yang muncul di ruang tengah, berbicara pada kami semua:

"Oalah...sing ning mburi kae trasi to? Tak kiro permen...Tiwas tak pangan jebule trasi..."
(Oalah yang di belakang itu terasi? Kukira permen. Terlanjur kumakan ternyata trasi)

Begitulah yang diucapkan Bapak sambil meringis. Kami hanya shock. Ibu geleng-geleng, antara geli dan kasihan. Dan mungkin sejak saat itu Bapak menjadi sedikit curiga pada apapun yang berbungkus seperti permen. Dan saya semakin kagum pada Bapak. Karena beliau adalah satu-satunya orang di keluarga kami yang berani memakan terasi dalam bentuk apa adanya...

3 komentar:

Dedy mengatakan...

wkwkwkwkwkwk....
harusnya mbkyu ngiklan
"ini terasi.... ini pinsil..
daripada makan terasi..mending gigit pinsi.." wkwkwkwk

jelek iklannya... biarin.. !!
wkwkwkwk :piss mbkyu... shock dah mantu bapakmu ini bacanya :ngacir

Lebah Fajar mengatakan...

pesan moral : "baca aturan pakai, jika hobby berlanjut, segera hubungi dokter....

Lebah Fajar mengatakan...

aneh,napa koment2 aku pada ilangan yaa??ckckckckckck

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...