Don't judge a candy by its package. Jangan nilai permen dari bungkusnya. Maksudnya kira-kira, tidak semua yang berbungkus permen itu dalamnya permen. Siapa tahu dalamnya terasi.
Ini cerita tentang Bapak saya. Entah karena salah duga atau bagaimana masalah permen dan terasi ini menjadi pengalaman yang 'berkesan' bagi beliau. Jadi ceritanya, waktu itu Ibu baru saja belanja bulanan. Dari mulai sembako sampai bumbu dapur. Nah, sebagai bagian dari komunitas bumbu dapur, terasi tentu saja tak lupa dibeli. Tahu kan kemasan terasi sekarang? Yang kecil-kecil dan bungkusnya mirip permen itu. Sebagai bumbu dapur yang taat, terasi dengan bungkus yang ngejreng itu tentu saja diletakkan di...dapur.
Setelah belanja Ibu pun istirahat bersama kami. Nonton tv bareng. Tiba-tiba (jreng jreng), kami dikejutkan oleh Bapak yang muncul di ruang tengah, berbicara pada kami semua:
"Oalah...sing ning mburi kae trasi to? Tak kiro permen...Tiwas tak pangan jebule trasi..."
(Oalah yang di belakang itu terasi? Kukira permen. Terlanjur kumakan ternyata trasi)

3 komentar:
wkwkwkwkwkwk....
harusnya mbkyu ngiklan
"ini terasi.... ini pinsil..
daripada makan terasi..mending gigit pinsi.." wkwkwkwk
jelek iklannya... biarin.. !!
wkwkwkwk :piss mbkyu... shock dah mantu bapakmu ini bacanya :ngacir
pesan moral : "baca aturan pakai, jika hobby berlanjut, segera hubungi dokter....
aneh,napa koment2 aku pada ilangan yaa??ckckckckckck
Posting Komentar